Sabtu, 14 November 2009

Pentingnya Pengembangan Diri

BEGITU sering kata pengembangan diri muncul dalam berbagai forum yang berkaitan dengan sumber daya manusia, memunculkan asumsi bahwa hal ini sangat penting. Seberapa penting pengembangan diri ini diungkapkan oleh dosen pengembangan kepribadian dari Akademi Sekretaris dan Manajemen Ariyanti Bandung, Hj. Dewi Irawati, B.Sc.

Menurut perempuan menarik yang yang juga sudah menulis buku tentang hal itu, pengembangan diri bukanlah suatu ilmu pengetahuan. "Melainkan suatu pendekatan humanis yang membantu setiap individu agar dapat menyadari keberadaan dirinya secara utuh. Hal ini bisa mengoptimalisasi kemandirian membentuk aktualisasi yang bermakna," kata Dewi menjelaskan.

Yang dimaksud pendekatan humanis adalah kejadian sehari-hari yang dialami oleh seseorang dan dijadikan pengalaman terbaik untuk hidupnya. Pengalaman di masa lalu ini ia pegang sebagai bekal atau modal meningkatkan kualitas dirinya. Mengutip ahli pengembangan diri dari Barat, Rogers (1969), Dewi menyebutkan teori pengembangan diri ini dilandasi pemikiran "Manusia merupakan sumber dari semua perbuatan manusia."

"Pengembangan diri dapat membuat seseorang memiliki pribadi yang dewasa dan mandiri," ujar Dewi. Pribadi dewasa yang dimaksud mencakup kedewasaam jasmani, rohani, emosional, intelektual juga sosial. Sedangkan pribadi mandiri adalah seseorang yang tahu apa yang dilakukannya dan sadar benar tentang tujuan hidupnya.

Untuk menghayati pengembangan diri ini perlu diketahui latar belakang apa yang dimiliki kita. Disebutkan Dewi, secara umum sebuah pribadi memiliki dua kutub eksistensi diri. Pertama, eksistensi individual yang meliputi rasa berhak untuk mengemukakan diri, ingin dihargai dan diakui. Kedua, adalah eksistensi sosial yaitu kita dituntut mampu menyesuaikan diri pada norma-norma yang berlaku dalam lingkungan.

Nah, jika dua kutub ini tidak seimbang, terjadilah kondisi mental yang tidak sehat. Sebaliknya jika dua kutub tersebut seimbang, dapat dipastikan kondisi mental yang sehat akan dimiliki oleh orang yang bersangkutan. "Kondisi ini memungkinkan ia melakukan perjuangan dan menerima tantangan hidup dan ia akan mampu mencapainya," kata Dewi.

Untuk mendapat kemampuan berjuang dalam menghadapai tantangan dan dinamika dalam kehidupan masyarakat, juga sangat bergantung pada usaha seseorang untuk bisa eksis dalam masyarakat itu sendiri. "Contohnya dalam menghadapi era globalisasi yang bisa disebut sebagai "dunia tanpa tapal batas", seseorang memerlukan kesiapan tertentu untuk menghadapinya," kata Dewi.

Sebagai individual dalam era globalisasi, seseorang harus memiliki keahlian, keterampilan dan profesionalisme dalam bidangnya. Mampu menguasai masa depan, mau berusaha untuk mengembangkan potensi pribadinya secara keseluruhan, berwawasan luas, bermotivasi kuat, percaya diri, disiplin dan mempunyai daya juang yang gigih serta mau bekerja keras.

"Pengembangan diri adalah sesuatu yang berlangsung seumur hidup. Akan lebih berarti lagi jika dilakukan berdasarkan dorongan hati nurani (internal), atas kemampuan, motivasi sendiri, bukan dorongan atau rekayasa dari luar atau lingkungan (eksternal).

Pengembangan diri menuntut seseorang untuk belajar sendiri, mencari secara mandiri tentang kualitas diri yang bisa diandalkan, terutama dalam dunia kerja dan memasuki kehidupan nyata. Pengembangan diri, kata Dewi, dapat dilakukan melalui pengembangan bakat, perwujudan impian-impian, peningkatan rasa percaya diri, komunikasi yang baik dengan lingkungan, mencoba menjadi kuat dalam menghadapi percobaan, peka terhadap diri sendiri, juga peka terhadap orang lain. "Yang tak kalah penting adalah belajar memercayai suara hati," kata Dewi. (Uci)***

Sumber :
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=61777
14 November 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar